Pudarnya Pesona Malamang

30 Jun

Masih ingat dengan Pesona Cleopatra. Ini pula yang telah menguak hati Habibburrahman el Shirazy untuk membuat novel “Pudarnya Pesona Cleopatra.” Agaknya kita bertanya-tanya seberapa besarkah pengaruh Cleopatra bagi sebuah kencantikan wanita. Cleoptara dikenal sebagai perempuan yang many seks. Alias orang yang dibangga-banggakan dalam hal seks. Hingga ia dianggap sebagai ratu seks.

Pepatah Arab mengatakan, “Jangankan bentuk asli perempuan Arab itu cantik, bayang-bayangnya saja sudah cantik.” Dengan bayang-bayangnya sudah tergoda. Aduhai amboi orang yang memandang. Apalagi melihat orangnya langsung, kalau agak berlebihan, bisa pingsang orang yang menikmati kecantikannya. Dalam cerita “Pudarnya Pesona Cleopatra” seorang Indonesia terobsesi menikah dengan orang arab. Sayang nasib tidak berpihak kepada orang Indonesia. Orang Indonesia menikah dengan perempuan Indonesia yang soleh. Setelah menikah sang lelaki tidak memperhatikan kebutuhan sangh istri. Hingga istri yang soleh kerap kali menderita batinnya. Apalagi kebutuhan akan suami istri. Sang suami tetap saja obsesinya seorang istri yang arab. Nasib berkata lain. Sang istri secara diam-diam kembali kepada orangtuanya. Sang suami sibuk dengan rona kecantikan Cleopatra. Akhirnya sang istri meninggal, sang suami baru menyadari bahwa “Pesona Cleopatra” tak seperti apa yang dibayangkan. Ia jemput sang istri ke rumah orangtuanya, tapi apalah daya, yang ia dapatkan hanyalah berita kepergian istrinya ke alam baqa.

Sekelumit kisah “Pudarnya Pesona Cleopatra” adalah pembuka cerita “Pudarnya Pesona Malamang”. Pesona malamang yang kita kaji dengan cara terbalik. Tahun 2009 sehabis lebaran Idul Fitri dan Idul Adha, penulis seperti biasanya kembali ke kampung halaman, sebuah kampung kecil yang terletak di daerah perbukitan, setidaknya masih ada hubungan dengan kaki gunung talang arah timur. Kampung kecil penulis itu bernama Kampung Karang Sadah. Di Kampung Karang sadah ini penulis dibesarkan dengan cinta adat, budaya, terutama beleian lembut cinta kasih Abak dan Ibu. Sebagai perantau ada gairah yang diharapkan sampai di kampung. Gairah itu ingin mencicipi Lamang. Setidaknya memakan lamang yang panas, apalagi lamang itu dibuka dalm piring, ditaburi hasil kukuran kelapa, tambah taburan gula pasir. Aduhai lamaknya. Tradisi ini pernah penulis nikmati ketika penulis masih sekolah SD sampai tahun 2001, kemudian ketika penulis sampai kelas 3 MTSN, masih terpelihara dengan baik. Hingga kalau lebaran sudah datang, takbir telah berkumandang gelora makan lamang menjadi-jadi. Rugi benar rasanya kalau tidak makan lamang. Malamang obat rindu perantau. Penulis merantau ke Padang. Tentunya menikmati lamang hanya bisa ketika pulang kampung.

Malamang, bearti memasak sepuluk di dalam talang, sejenis bambu tapi berkulit tipis. Beras Getah (Sipuluk) direndam dalam air 1 sampai 2 jam. Talang setelah dipotong dikeringkan dengan posisi terbalik 3-4 hari. Tujuannya agar talang benar-benar kering. Daun pisang yang muda setelah diambil dijemur satu hari penuh kalau cuacanya baik. Santan diperas sekitar tiga kali sampai empat kali ambil santan. Maka bersiap-siaplah untuk hari yang pesta raya. Setelah semuanya sesuai dengan aturan maka lamang siap di jarang. Pertama, talang diletakkan ke posisis semula. Talang dimasukkan daun pisang yang telah digulung untuk membatasi lamang supaya tidak lengket dengan talang. Sipuluk dimasukkan dalam talang, kemudian ditambahkan dengan santan. Lamang dijarang dikayu yang berbara bagus, agar lamang masaknya enak. Lamang juga bagusnya dimasak dengan api tempurung kelapa. Apinya tajam baunya juga enak. Sesudahnya menunggu sekitar setengah hari lebih kurang. Lamang siap dihidangkan. Silahkan suruh anak kemenakan, mamak, etek, mintuo, sumando, orang kampung untuk mencicipi lamang. Sesudahnya berdoa bersama-sama.

Sebenarnya tradisi malamang orang minangkabau tidak hanya ketika sesudah hari raya besar. Tradisi malamang juga biasa dilaksanakan ketika bulan Mauluik yaitu bulan Rabiul Awal dalam rangka memperingati hari kelahiran nabi. Malamang juga biasa dilaksanakan bulan Muharram dan Rajab. Bulan Muharam memperingati tanggal 10 Muharram. Malamang juga biasa dilaksanakan ketika ada acara baralek Gadang, malang juga biasa dilaksanakan ketika ada hari kematian, manyaratuh hari. Dalam malamang ini diundang alim ulama, cadik pandai, suluh bendang dalam nagari, panghulu, untuk menikmati lamang yang telah dibuat etek di dapur.

Lamang ini juga bermacam bentuknya. Ada lamang putih dari beras getah putih. Lamang hitam dari sipuluk hitam. Lamang pisang dari pisang yang dicampur sipuluik hitam. Lamang parancih, lamang yang memang dibuat dari ubi jalar yang ditumbuk. Lamang gula, lamang yang dari sipuluak hitam atau putih yang ditengah-tengah dimasukkan gula. Lamang Kunduah (labu), lamang yang bahannya dari labu. Kes emua lamang itu dicampur dengan santan untuk proses pembentukannya.

Bagi anggota yang tidak ada uang untuk malamang biasanya mereka berhutang kesana-kemari untuk mendapatkan uang pembeli talang, sipuluik, dan kelapa untuk diparut. Kalau juga tidak dapat biasanya talang dicari sendiri ke hutan. Kalau masalah sipuluik tidak dapat beli maka dapat dihutang. Kadang dipinjam sipuluik dusanak. Di sana terjalin rasa membutuhkan satu sama lain. Kalau seorang tidak berbuat, tidak enak hatilah dirinya di tengah masyarakat. Malamang merupakan hal wajib bagi orang kampung. Kebanggan bagi orang rumah kalau bisa menyediakan lamang untuk ninik mamak, alim ulama, cadik pandai, suluh bendang dalam nagari. Sedih hatinya kalau dapurnya tidak berasap. Maka umumnya hampir tiap rumah malamang.

Malamang membuat orang memilikki rasa kebersamaan. Rasa membutuhkan satu sama lain sangat terlihat sekali. Tingkat penghormatan terhadap kebudayaan. Bahkan juga mengangkat martabat etika. Tahu dengan kata yang empat: mendaki, melereng, mendatar, menurun. Dalam malamang ada banyak nilai yang ditawarkan. Kelestarian budaya juga terbangun baik. Tali kekerabatan benar-benar mendarah daging. Malamang juga memeperlihatkan kekayaan anak negeri.

Tapi saat ini sungguh berada pada posisi terbalik. Pesona malamang meninggalkan ketenarannya. Hari raya tetap datang. Bulan Rajab, bulan Muluik, bulan Safar tetap datang, tapi malamang sudah mulai main kucing-kucingan. Budaya masak bersama memudar. Orang-orang lebih senang membeli kue langsung. Tidak repot memikirkan ini dan itu. Pergesaran budaya malamang akan memnyebabkan pergesaran nilai-nilai budaya. Pada tahun 2009 dan 2010 malamang sudah menjadi barang langka. Hanya sedikit yang masih melakukan tradisi malamang, salah-satu di antaranya Pariaman, sedangkan untuk padang juga sudah mulai pudar, khusus untuk kampung penulis (solok) malamang boleh dikatakan tidak ditemukan lagi, kalau ada hanya satu atau dua orang.

Penulis berjalan di pasar raya Padang, itu penulis lakukan di tahun 2009. Penulis masuk bawah padang teater, penulis temukan orang menjual lamang. Pada kesempatan lain penulis juga menemukan orang yang berjual lamang sambil membawa ke ujung-ujung negeri. Lamang diperjualbelikan. Pertanyaannya apakah budaya mesti akan diperjualbelikan? Setidaknya sebagai generasi minang, kita perlu terus merujuk kepada kebudayaan. Cleopatra pudar sebagai akhir dari ketaklaziman, seharusnya malamang dia terus eksis dengan kelaziman.*** Peminat dan penggiat sastra dan pendidikan, Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam, IAIN Imam Bonjol Padang.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.