Menghidupkan Tradisi Malamang yang Suda
Oleh
Alizar Tanjung
dengan rasa rindu kukenang pemilihan umum setengah
abad yang lewat
dengan rasa kangen pemilihan umum pertama itu
kucatat
peristiwa itu berlangsung tepatnya di tahun lima
puluh lima
ketika itu sebagai bangsa kita baru sepuluh tahun
merdeka
itulah pemilihan umum yang paling indah dalam
sejarah bangsa
pemilihan umum pertama, yang sangat bersih dalam
sejarah kita
……………
(Taufiq Ismail)
Tentu kita masih ingat bagaimana Taufik Ismail menorehkan rasa prihatinnya terhadap bangsa Indonesia. Lewat puisinya yang sarat makna kebangsaan, mengkritik keadaan yang jauh lari dari tujuan kemerdekaan. Bangsa Indonesia, bangsa yang cinta akan perdamaian dan kesatuan. Tapi kadang kata perdamaian dan persatuan hanya di jadikan lambang untuk mengejar kekuasaan. Seperti dalam puisinya ini “Ketika Indonesia Dihormati Dunia”. Puisi Taufik Ismail mengingatkan kita pada masa lalu, dimana pemilu untuk pertama kali dilaksanakan. Dalam prakteknya penuh dengan rasa nasional kebangsaan. Pemilu untuk membangkitkan nasional bangsa Indonesia kepada rasa persatuan dan kesatuan.
Waktu itu tak dikenal singkatan jurdil, istilah/ jujur dan adil// Jujur dan adil tak diucapkan, jujur dan adil cuma/ dilaksanakan//Waktu itu tak dikenal istilah pesta demokrasi//Pesta demokrasi tak dilisankan, pesta demokrasi cuma/ dilangsungkan
Pemilu dahulu pemilu kehidupan rakyat ini. Dimana yang ada pelaksanaan akan makna pemilu. Penghargaan akan rasa demokrasi. Demokrasi saling memberikan hak dan membayar kewajiban. Pesta demokrasi, pesta rasa persaudaraan. Di tahun lima puluh lima tiada tumpah darah, tiada kursi parlemen yang patah, tiada orang yang saling menuding satu pihak ke pihak lain. Tapi seiring perjalanan pemilu dalam tujuh kali pelaksanaan. Acungan tinju jadi biasa, penghancuran gedung adalah pesta demokrasi, pertengkaran ajang penyelesaian masalah. Lalu tinggallah keluarga-keluarga yang menangis. Keluarga yang meratapi rumahnya imbas demokrasi.
Partai-partai muncul menawarkan janji-janji. Jurdil dilisankan, demokrasi diucapkan, kesatuan bangsa cukup sampai di lidah. Sesudahnya mereka sampaikan kita butuh pemimpin bangsa ini dari partai ini. Saat itu mereka sampaikan wajah pemimpin lewat poster-poster di pohon-pohon kota. Di pohon-pohon jalan provinsi. Dipakukan.
Bangsa ini bangsa multi partai. Tidak dipungkiri kalau dalam dekade setelah keruntuhan reformasi, semenjak runtuh rezim Presiden Soeharto (1998), partai-partai politik bak cendawan di musim hujan. Berbagai partai muncul dengan Idealisime yang berbeda-beda dari fraksi yang berbeda-beda. Keseluruhan partai ini ditawarkan kepada masyarakat. Hingganya semakin banyak partai, masyarakat jadi makin dibuat bingung mau memilih partai yang mana. Kebingungan masyarkat ini disebabkan misi masing-masing partai politik yang beragam. Keberagaman ini mempunyai pandangan-pandangan ke depan yang positif. Masing-masing partai ingin mencerdaskan kehidupan bangsa, sesuai dengan tujuan pendidikan Indonesia secara umum. Mereka menganggap bangsa Indonesia membutuhkan pemimpin yang yang cerdas. Seorang pemimpin yang mampu meningkatkan taraf hidup anak bangsa. Oleh karena itu mereka mengusung dari masing-masing partai, calon pemimpin yang dianggap mampu dan berkompeten di bidangnya.
Nah, bak kata-kata orang supayo indak gadang dalam sarawa. Partai politik memakai langkah yang sangat jitu untuk menaikkan nama calon usungan mereka––Partai politik memakai biaya besar, berkorban moril dan materil bagi calon mereka–– Di antara langkah jitu yang dilakukan, melalui pemasangan baliho, spanduk, dan poster-poster. Dalam baliho, spanduk, dan poster ini tertera misi-misi bagi calon yang diusung. Dalam pemakaian poster lebih banyak daripada pemakaian baliho dan spanduk. Di samping lebih murah disebarkan, biayanya juga lebih mendingan dari pada pembuatan baliho dan spanduk. Pemasangan poster dilakukan di tempat-tempat yang mudah dijangkau oleh masyarakat, baik melalui rabaan langsung maupun dengan cara melihat sekilas. ‘Kalau ini wajahnya maka ini partainya’.
Dalam poster ini coba perhatikan secara khitmat. Misi-misi yang dilancarkan. “maju bersama….” Tergambar etikat baik untuk memajukan bangsa ini, bangsa yang terus dilanda dengan berbagai krisis di masing-masing bidang. Partai dalam poster memberikan janji-janji yang mengiurkan. Kiasnya bisa-bisa air liur menetes sebab semakin menakjubkan misi yang disampaikan. Orang awam akan berfikir mugkin lebih baik partai ini saja yang dipilih. “Bersama partai…kita tingkatkan kesejahteraan bangsa Indonesia.” Tidak tanggung-tanggung partai politik mengataskan dirinya atas partai politik yang lain. “Bangsa Indonesia ini adalah bangsa agraris. Maka dengan bertani kita bangun bangsa Indonesia.” Partai politik membawa-bawa kejayaan bangsa Indonesia sebagai negara yang pernah menjadi lumbung pangan. Maka semakin bertebaranlah “poster-poster wajah” partai.
Apalagi saat memasuki tahun 2009 ini merupakan tahun pemilu, baik pemilihan calon legislatif daerah dan pusat. maupun untuk pemilihan capres dan cawapres. Tentu akan lebih banyak lagi poster-poster wajah partai dari sebelumnya.
Dari sini timbul pertanyaan. “poster-poster wajah partai” dipajang memakai media jalan. Yang banyak digunakan, pohon-pohon kayu, dinding-dinding pagar dan tembok rumah yang tak berpenghuni. Pemandangan yang semacam ini sangat mengganggu keindahan kota. Mengaburkan pikiran masyarakat awam. Mempengaruhi pemikiran siswa-siswa untuk melakukan hal yang sama. Pertanyaannya. Apakah mungkin sebuah partai memimpin bangsa ini ke arah kecerdasan bangsa, kalau sebelum memimpin terlebih dahulu mengadakan kerusakan terhadap infrastruktur kota? Pohon-pohon dipasang poster dengan menancapkan paku. Akhirnya umur pohon menjadi lebih pendek, lalu mati. Dampaknya pemanasan global bertambah, akibat berkurangnya tanaman kota. Pagar-pagar menjadi bercak dan menimbulkan kesan jorok. Masihkah ini pantas disebut sebagai mencerdaskan bangsa, meningkatkan taraf hidup bangsa Indonesia?
Bangsa ini butuh pemimpin. Pemimpin bukan orang yang mengajukan diri untuk menduduki kursi kekuasaan. Pemimpin orang yang menolak kursi jabatan. Pemimpin orang yang tak merusak negeri ini. Pemimpin orang yang memaknai setiap darah pejuang yang membasahi tanah ini sebagai telaga yang muncul di hati.*
h Termarginalkan
Komentar Terakhir