Artikel Alizar Tanjung
Kalau orang tanya apa itu malamang maka inilah jawabnya. Jawab saja sedang membakar talang atau buluh tipis. Membakar di atas api dalam satu atau ruas yang panjang. Alasan ini tentu belum lengkap. Belum cukup krusial kata sebahgian orang.
Dalam malamang maka orang disibukkan dengan berbagai aktifitas. Biasanya pada hari baik bulan baik. Seperti menyambut kedatangan bulan Ramadhan, sesudah bulan Ramadhan (Menyambut hari raya idul fitri), pas hari raya haji. Malamang juga bisa dilakasanakan ketika ada cara helatan. Sunggub begitu banyak aktifitras malamang di kampung orang Minang.
Malamang? Malamang bearti seseorang telah memotong buluh atau bambu yang tipis. Buluh itu bisa jadi diambil seruas-seruas, atau juga sekaligus dua ruas untuk ruas bambu yang pendek. Setelah bambu/talang dipotong sesuai dengan ruas yang dinginkan. Talang diendapkan sekitar beberapa hari agar siap pakai. Maka biasanya ibu-ibu meletakkannya di gudang tempat yang kering. Barulah talang siap dipakai.
Malamang bearti ibu-ibu telah merendam sipuluak (sejenis beras yang agak ada getahnya ketika di masak, beras ketam lebih tepatnya). sipuluak direndam sekitar beberapa lama. Barulah setelah direndam sekitar tiga jaman sipuluak siap di pakai. ibu-ibu telah membariskan Talang. Talang-talang di lampisi bagian dalam dengan daun pisang muda. Daun pisang yang digulung. Daun pisang yang sudah dikeringkan dan dibuang sejenis tepung halus yang menempel di dindingnya.
Fungsi dari daun pisang ini untuk membatasi agar antar sipuluak dengan dinding talang tidak menempel. Kalau sipuluak menempel ke talang alamat lamang tidak akan jadi dinikmati. Setiap daun pisang ini di masukkan dari alas bukhul bawah talang. Sesudahnya talang siap dimasukkan sipuluak yang sudah selesai di rendam. Sipuluak sudah memgembang.
Malamang bearti juga ibu-ibu mengambil santan dari kukuran––cukur kelapa alah tradisisional yang masih menggunakan jasa tangan sepenuhnya. Memakainyapun menghabiskan waktu. Sesudahnya orang yang menguras kelapa kan dibabawa seperti bergoyang dangdut––kelapa. Di mana kelapa yang dibelah dua siap untuk dicairkan isinya. Kelapa yang sudah dicairkan isinya di peras dengan menggunakan kain kaciak, kain rapat yang tembus pandang. Sesudahnya kelapa direndam dengan air panas. Kemudian diperas perlahan-lahan mengeluarkan santan. Bermain-mainlah ibu-ibu dengan selepah kelapa.
Tahap selanjutnya sipuluak dimasukkan ke dalam lubang talang alah kadarnya. Setelag sipuluak masuk ke ruas talang, giliran santan yang dituangkan. Santan yang bewarna putih susu di masukkan setelah dicampur dengan garam sesuai dengan yang di butuhkan. Jangan terlalu banyak kalau lidah tidak mau mencicipi asin laut.
Malamang bearti juga membakar Sayak (tempurung kelapa) dicampur dengan kayu bakar yang diambil di ladang rimba. Kayu di susun panjang, api dinyalakan. Dibiarkan beberapa saat barulah api dan kayu siap dipakai untuk malamang. Tentunya dari ujung ke ujung tempat kayu dibakar telah di pasang sebuah besi melintang. Tempat talang kan di sandarkan. Api sudah menghasilkan bara. Talang lamang disusun berjajar seperti tentara berbaris. Sangat indah dengan buai asap menjulang tinggi. Tidak ibu-ibu saja yang menjaga. Ada juga bapak-bapak yang ikut nongkrong menjaga talang. Badiang kata orang minang.
Proses lamang masak membutuhkan waktu sedikit lama. Lamang biar matang rata, mesti diganti-ganti posisinya. Kalaulah lamang diputarbalikkan posisi yang menghadap ke api, alamat lamang masak dengan rata. alamat orang yang memakan lamang berkata. Enak benar masakkan lamang Tek Dar. Enak benar lamang Tek Si Ar. Sungguh pandai Undun membuat lamang. Sungguh lihai tangan Bundo Kanduang orang Rumahgadang. siapa yang tidak akan minta tambuh dengan masakkan lamang yang seenak ini.
Lamang akan masak salah satu tandannya apabila sudah tampak bekas hitam panas pada talang. Bukan bekas terbakar tapi hitam karena pemanasan yang mendulam dalam. Sebab proses lamang proses dipanaskan di dekat bara. Tidak enaklah lamang apabila dimasak dengak api dari kompor minyak tanah. Tidak pula dengan api gas. Enak lamang karena proses api yang membakar. Apalagi kayu yang digunakan kayu yang menghasilkan api yang sedikit hijau. Kalaulah lamang matang barulah siap untuk dihidangkan.
Semenjak delapan tahun yang lalu semenjak pendidikan mengantarkan penulis ke kota Padang sampai tahun 2009, sangat berbesar hatilah penulis kalaulah sudah datang hari besar lembaran. Kan bearti melamang sudah berkumpul di dusun Karang Sadah, juga di susun lain, di kecamatan Danau Kembar. Kalau dahulu yang termasuk kecamatan Lembang Jaya, kabupaten Solok.
Tidak lengkap rasanya kebahagian ini kalau saat hari lembaran itu tidak dapat pulang. Betapa lamang ibu di rumah telang menghimbau jauh, betapa pula lamang etek memanggil untuk di cicipi, begitu lamang sanak famili yang minta hendak di kunjungin. Perih teras jika kehendak pulang tidak terpenuhi. Maka bagaimanapun juga sedapat muingkin penulis sempat pulang kampung, walau hanya barang sehari. Sebab kampung nan jauh telah menghimbau anak rantau pulang.
Sangat terasalah enak lamang dicicipi dengan harum wewangian daun pisang. Talang di belah lang dihidang di pring-piring layang. Sendok di taruh maka lamang siap di potong melingkar, sepotong-sepotong. Terserah siapa yang hendak mencicipi. Kalau lamang sudah di hidang di ruang tamu maka duduklah bersimpuh bersila bagi laki-laki, duduk bersimpuh bagi perempuan untuk menikmati. Air terhidang, harum lamangpun telah terhidang. Siapapun boleh mencicipi.
Satu hal lagi ketika hari malamang maka jangan salah kalau banyak orang yang datang. Ia buka pintu sambil membaca sala. Setiap orang kampung bergiliran datang ke rumah. Biasanya mereka berombongan. Setidaknya paling sedikit rombongan yang datang 6 orang. Paling banyak tidak terbatas. Maka dengarlah gelak-tawa orang kampung. Maka dengar pulalah setelah lantunan doa, setelah orang memakan lamang, meminum segelas air kopi yang disediakan tuan rumah, memakan nasi dengan segala pauk pauknya yang juga spesia. Sesudahnya kelompok orang itu pergi lagi ke rumah yang lain untuk kembali mengulang pekerjaan yang sama.
Masuk penulis kepada pentingnya acara malamang. Tak ada suatu perbuatan yang tidak mengandung asas manfaat, atau asas mudarat. Paling tidak ada salah satunya.
Setidaknya dari acara malamang. Ada beberapa poin yang menjadikan sebuah perbuatan yang berfaedah. Ini patut di contoh.
Pertama, malamang adalah budaya asli orang Minangkabau. Maka budaya adalah aset negeri. Memilikki keunikkan tersendiri. Sebab itu malamang adalah unsur kekayaan suatu negeri. Kalaulah negeri tidak memilikki budaya alamat diri terkatung di tengah laut. Tidak tahu arah yang mau di tuju. Tidak air tawar yang bisa di banggakan. Hambarlah segala idanh laut yang didamba-dambakan. Sebab itulah malamang mesti terus di kayakan, disemarakkan, dibangkitkan dari batang yang terendam.
Kedua, malamang menjadi tubuh yang sehat. Tentu ktia bisa menilik kepada perkataan nabi kita Muhammad SAW, “orang mukmin itu ibarat satu tubuh, sakit satu maka sakit yang lainnya.” Maka jangan salah kalau orang di kampung itu saling mengenal satu sama lain. Walau letaknya dari ujung kampung ke ujung kampugn. Malang sebagai salah satu wadah yang menjadikan mereka bersaudara. Mereka kenal siapa yang sedang di timpa kemalangan. Mereka kenal siapa yang sedang mendapat rizki membanjir. Mereka kenal siapa yang barusan di timpa kemalangan. Mereka kenal bahwa mereka bersaudara. Maka saudara, mereka akan saling mengunjungi, saling membantu, saling berbagi sedih dan gembir. Seperti yang penulis sampaikan pada aritkel yang lalu, tak ada kayu untuk memasak, maka jenjang yang dibelah.”
Ketiga, siapa sangka kalau tradis melamang lambat-laun kan menjadi objel wisata yang mengagumkan. Ia kan menarik padar pendatang aing tuk menikmati hasil tradisi budaya orang minangkabau. Menjadi suatu yang menakjubkan. Aku masih ingat pameo tentang gogong yang ada gula di dalamnya. Orang Jepang terpana dengan keahlian orang Indonesia, bagaimana pula caranya memasukkan gula ke tengah godok. Padahal segal pintu masuk tertutup dengan sangat rapi. Sungguh menakjubkan. Setidaknya dengan malamang ini juga kan menjadi daya tarik budaya bagi para pendantang asing.
Sebab itulah penulis sebagai penulis artikel ini dan sebagai orang minang sendiri dan juga siapa pun yang membaca artikel ini, malamang perlu terus ditingkatkan. Malamang menjadi keakraban tersendiri yang tidak dipunya oleh daerah lain. Dengan malamang kita punyak kekayaan.
Sekarang saatnya sudah mendekat pada bulan Ramadhan. Bagi talang, bagi bulu, bagi bambu, bagi tepung, bagi daun pisang, bagi kayu, bagi tempurung kelapa. Mari kita melamang.***Lingkarputih, Juli 2009
Komentar Terakhir