Hilangnya Bahasa Arab melayu dari Minangkabau

26 Jun

Artikel Alizar Tanjung

Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam IAIN Imam Bonjol padang. Bergiat di FLP Sumbar dan Warawan magang Suara Kampus . Redaktur Sastra majalah Tasbih.


Mengingat bahasa melayu mengingatkan aku pada kenangan masa silam. Mungkin bukan kejadian yang luar biasa dari yang lainnya. Ini kejadian biasa yang sangat berkesan dalam diriku. Saudara tentu kenal dengan Film “Sengsara Membawa Nikmat” yang disutradarai Agus Wiyono dengan mengorbitkan Sandi Nayoan sebagai Midun, Dessy Ratnasari sebagai Halimah. Film diangkat dari cerita novel “Sengsara Membawa Nikmat” karangan Tulis Sutan Sati. Setelah diorbitkan menjadi film, popularitas novel “Sengsara Membawa Nikmat” meningkat tajam setelah hampir hilang dari peredaran dunia sastra. Hingga menjadi sebuah film yang mendapat apresiasi yang luar biasa dari penikmat sastra dan budaya. Film Simidun, ya begitu aku menamakannya.

Saat itu aku dan kawan-kawan berada di rumah berlantai kayu, berdinding kayu, beratap seng. Dan mulailah aku perhatikan film Simidun. Satu hal yang sangat menarik dari fim ini setelah sekian tahun diingat kembali. Berada dalam tulisan. Midun bukanlah orang yang bodoh atau tidak tahu dengan ilmu agama. Midun orang yang cerdas. Dalam cerita Sengsara Membawa Nikmat ilmu tulis menulis telah berkembang pesat. Hanya saja beda dengan cara tulis menulis dengan zaman sekarang. Saat ini lebih cendrung menggunakan bahasa latin.

Telah diajarkan dalam surau di Minangkabau orang menulis dengan bahasa Arab Melayu. Seperti halnya dalam film Simidun, di mana Midun diajarkan baca tulis Arab Melayu. Dengan lihai ia torehkan surat menggunakan bahasa Arab Melayu kepada kampuang nan jauah di mato. Sebab Midun sudah berada di rantau orang. Rantau yang memisahkan ia dengan sanak saudara. Tapi walaupun begitu rasa rindunya kepada kampung telah dapat tertuangkan dalam tulisan berbahasa Arab Melayu.

Barulah Midun mulai belajar bahasa latin sesudah ia ditipu mentah-mentah oleh pedagang kain dari arab, Syekh Abdullah Al-Hadramaut. Tak tahu rupanya, tempat orang ia telah menaruh kepercayaan adalah seorang lentenir, sebab saat Midun dalam perjanjian surat dengan pedagang itu tidak mempedulikan apa isinya. Apalagi dia tidak pandai berbahasa latin. Barulah sesudahnya nasib di penjara mengajarkan ia keberuntungan akan pilihan jalan hidup.

“Sengsara Membawa Nikmat” yang dikarang Tulis Sutan Sati bukanlah suatu kebetulan ia memasukkan bahasa Arab Melayu. Sebagai orang minang tidak mungkinlah ia membuat secara kebetulan. Walaupun berada dalam ruang lingkup fiksi tetapi pada sebahagiannya ada fakta yang hendak diungkap. Sebab manusia hanya bisa memindahkan dari suatu bentuk ciptaan kepada ciptaan yang lain, tanpa mampu menciptakannya. Sebagai orang yang berada dalam ruang lingkup minang tentulah ia kenal dengan bahasa yang dipakai dalam keseharian. Dalam tulisan orang minang memakai bahasa Arab Melayu sebagai bahasa jembatan antara yang satu dengan yang lain. Yang mana bahasa ini mirip dengan penulisan arab tetapi lafaznya mengikuti bahasa lisan orang tanah melayu.

Pengungkapan bahasa melayu dalam film ini juga merupakan sebuah bentuk kritikan terhadap semakin menghilangnya penggunaan bahasa itu sendiri sebagai bahasa asli. Apalagi masuknya pengaruh kolonial Belanda yang membawa bahasa latin. Inilah setidaknya yang hendak disampaikan dalam film “Sengsara Membawa Nikmat”. Adanya keinginan penulisnya supaya bahasa Arab Melayu kembali dipelihara sebagai bahasa asli orang tanah melayu.

Mengingat bahasa Arab Melayu mengingatkan aku pula kepada masa-masa masih Sekolah Dasar. Di mana masih diajarkan bahasa Arab Melayu. Bagaimana cara penulisan ng, nya, cha, e. saat itu aku pandailah sedikit-sedikit berbahasa Arab Melayu.

Penulisan kitab-kitab kuno orang Minangkabau juga banyak dalam bahasa Arab Melayu. Seperti sejarah Syekh Burhanuddin telah banyak dikenal dan diperbincangkan para ilmuwan, baik dalam literatur, maupun dari laporan bangsa Eropah lainnya. Salah satu sumber utama yang menjelaskan dari perkembangan surau-surau dan lahirnya pembaruan Islam di Minangkabau berasal dari sebuah naskah kuno tulisan Arab Melayu. Naskah itu berjudul, Surat Keterangan Saya Faqih Saghir Ulamiyah Tuanku Samiq Syekh Jalaluddin Ahmad Koto Tuo, yang ditulis pada tahun 1823. Di dalamnya telah termaktub bagaimana orang Minangkabau menggunakan surau sebagai sesuatu tempat yang penting, telah dibahas pula di dalamnya fungsi surau di Minangkabau.

Di samping itu, riwayat ulama ini telah diterbitkan dalam tulisan Arab Melayu oleh Syekh Harun At Tobohi al Faryamani (1930) dengah judul Riwayat Syekh Burhanuddin dan Imam Maulana Abdul Manaf al Amin dalam Mubalighul Islam. Buku ini menerangkan dengan jelas mengenai diri Pono, yang kemudian bergelar Syekh Burhanuddin. Diceritakan dengan jelas kehidupan keluarga, masa mengenal Islam dengan Tuanku Madinah kemudian berlayar ke Aceh untuk menimba ilmu kepada Syekh Abdurrauf al Singkli. Diceritakan pula secara mendetail siapa saja gurunya saat ia pergi ke daerah aceh. Tertuang perjalanan hidupnya yang panjang hingga ia menjadi ulama besar di nusantara.

Menurut Abdul hadi, W.M, bahwa penggunaan bahasa Arab Melayu telah dikenal semenjak abad ke-7, hal ini berdasarkan prasasti yang di temukan di Kuala Berang, Terengganu, pada abad ke-13 M.Hal ini membuktikan pula bahwa jauh sebelum kedatang bahasa latin, bahasa arab mealayu telah terlebih dikenal lebih dahulu. Namun diakui oleh Abdul Hadi, WM bahwa peminat bahasa Arab Melayu telah mengalami penurunan dari waktu ke waktu. Bahasa yang dikenal dengan bahasa jawi di Minangkabau itu. hanya orang yang berumur 35 tahunan ke atas yang masih mengenal penulisan bahasa Arab Melayu, itupun hanya sebahagian. Sedangkan yang berumur 35 tahunan boleh dikatakan tidak lagi mengenal tulisan Arab Melayu. Sungguh ini merupakan keadaan yang sangat memprihatinkan, di mana orang telah mininggalkan hasil karya asli nenek moyangnya..

Sementara untuk terus mendalami buku-buku yang berbahasa Arab Melayu membutuhkan kelihaian berbahasa Arab Melayu. Setidaknya pada tahun 1974, Ismail Husain memperkirakan ada sekitar 5.000 naskah Arab Melayu dan lebih kurang seperempatnya berada di Indonesia. Adapun Chambert-Loir (1999) mengemukakan setidaknya ada 28 negara sebagai tempat penyebaran naskah-naskah kuno Arab Melayu. Negara itu adalah Afrika Selatan, Amerika, Austria, Australia, Belanda, Belgia, Brunei, Ceko-Slovakia, Denmark, Hongaria, India, Indonesia, Inggris, Irlandia, Italia, Jerman, Malaysia, Mesir, Norwegia, Polandia, Prancis, Rusia, Singapura, Spanyol, Srilanka, Swedia, Swiss, dan Thailand. Sungguh angka yang mencengangkan. Untuk itu butuhlah tenaga ahli yang mapan berbahasa Arab Melayu untuk mengkajinya kembali. Kalaulah tidak ada lagi yang pandai bahasa Arab Melayu, tentulah buku ini akan menjadi lapuk di museum. Akhirnya tinggal sebagai barang pajangan. Sedangkan orang terdahulu membuatnya tentulah dengan tujuan untuk dipelajari. Dikembangkan dan diamalkan.

Namun semua itu kini seperti berada di ambang batas. Rumah tinggal menunggu runtuh, kalau sudah runtuh kayu kan dimakan ketuan. Pada akhirnya kembali kepada asal tanah. Sebagai orang Minangkabau tentu ini cukup memprihatinkan. Seharusnya bahasa ini kembali ditumbuhkembangkan. Ini tidak cukup dengan pelajaran hanya dua jam mata pelajaran di kelas.

Untuk itulah sangat diharapkan bagi lembaga terutama yang berada dalam ruang lingkup Islam untuk menumbuhkan semangat berbahasa Arab Melayu. Kalau memang harus, setidaknya ada jurusan Arab Melayu. Hingga teks-teks yang berbahasa melayu daapt dipelajari secara intens dan dapat diselamatkan dari ancaman hilangnya dari peredaran. Hal yang lebih penting lagi budaya nenekmoyang tetap terlestarikan sebagai suatu kebudayaan yang tidak dapat dijualbelikan. Terutama bagi negeri Minangkabau ini.***

2 Tanggapan to “Hilangnya Bahasa Arab melayu dari Minangkabau”

  1. Rachmad 26/06/2010 pada 3:44 pm #

    Wah…baru tau ane.
    trima kasih..
    bermanfaat kali gan..
    http://punzjrs24.wordpress.com

  2. alizartanjung 27/06/2010 pada 4:45 am #

    Alhamdulillah artikel saya ini dapat memberikan sumbangan.
    Minang memang kaya dengan adat moral, tapi itu7 mulai terkikis

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.