Dimensi Kepekaan Sosial Pergaulan Minang

26 Jun

Oleh Alizar Tanjung


saikek bak lidih

sarumpun bak sarai

salubang bak tabu

sakabek bak siriah

sasakik sasanang

sahino samalu

saikek sakabek arek

sakabek sabuhua mati

Orang minang sangat dikenal dengan konsep persaudaraan. Rasa setali darah membuat ia menjadikan diri orang lain bagian bagi dirinya. Rusak diri orang lain maka dirinya yang lebih dahulu dibawa berkecimpung. Bak mandi di sungai, mencebur ke dalam air, maka basah sekujur tubuh. Lenyap kaki, tangan, kepala ke dalam air. Kalau saudaranya mendapat hina atau membuat suatu kesalahan fatal maka muka dia yang terlebih dahulu yang tidak mampu ia perlihatkan kepada orang banyak.

Rasa persaudaraan itu terus dipertahankan, tanpa harus melihat apakah ia orang yang berada di golongan bawah, atau golongan atas. Sebab derajat orang bukanlah dilihat dari kaya atau rendah ekonominya. Syarak mengajarkan, agama dan keimananlah yang membedakan antara yang satu dengan yang lain. Boleh jadi orang yang berekonomi jauh di bawah rata-rata, di mata Allah ia mendapat tempat yang mulia, sebab ketaatan dan kepatuhannya kepada Allah. Apalagi syarak menjadi pedoman orang minang. Syarak mangato. Syarak yang mengarahkan, adat mengkikut kepada syarak.

Kehidupan dalam syarak ini juga yang mengajarkan kepada orang minang, di mana semenjak abad ketujuh kedatangan Islam, Islam sudah mulai membaur ke dalam adat. Dalam Islam dikatakan bahwa persaudaraan itu ibarat satu tubuh, rusak satu maka rusak yang lainnya. Sakit satu maka yang lain ikut merasakan sakitnya. Sakitnya itu memerih sampai ke tulang. Dalam hadits lain dikatakan juga, persaudaraan itu bagaikan satu bangunan. Kalau sandi yang telah rusak, rumah takkan berdiri dengan kokoh. Malah setiap sebentar bergoyang. Apalagi kalau dua sudut sandi yang telah patah, alamat rumah patah ke tengah. Atap runtuh, dinding roboh. Rumah tak lagi dapat di hunyi.

Inilah konsep persaudaraan yang ditawarkan Islam. Di mana ia adalah saudaranya. Dan saudaranya adalah ia. Tentu kalau sudah seperti itu, tidak akan senang ia melihat saudaranya yang menderita, tidak pula ia tega melihat saudaranya yang kelaparan, tidak pula ia mau melihat saudaranya kekurangan intelektualitas.

Perih dada saudaranya maka perih pula dadanya. Ia sendirilah yang berkecimpung dalam kesusahan saudaranya. Orang minang sangat memahami akan hal ini. Tentunya ini tidak terlahir dengan sendirinya. Orang minang punya falsafah, “Alam Takambang jadi Guru.” Islam juga mengajukan suatu tren kehidupan. Islam mengajarkan hendaklah membaca ayat-ayat Qauniyah (Tanda-tanda yang terdapat di alam jagad raya ini.)

Kehidupan takkan berhenti, roda kan terus berputar selama hayat masih dikandung badan, selama nafas masih keluar masuk ke dalam lubang hidung yang berambut. Begitu juga kehidupan di Minangkabau takkan berhenti selama bumi ini masih berputar, selama alam ini masih diperkenankan Allah untuk hambaNya.

Bentuk kepekaan sosial ini terlahir dalam pitatah-patitih orang minang. Di mana pitatah-patitih itu sendiri menjadi pengikat dan pemersatu. Ia menjadi hukum dalam pergaulan. Kalau ada yang tidak menurut maka ia kan tersisih sendiri. Terhukum oleh adat dan syarak dari pergaulan. Ia tak peduli kepada orang lain, maka hukum itu serupa hukum karma yang berbalik kepada dirinya sendiri.

saikek bak lidih

sarumpun bak sarai

Kepekaan kepada alam, kepekaan terhadap ayat-ayat Tuhan mengantarkan orang minang kepada yang namanya kepekaan terhadap apa yang dibutuhkan dan apa yang tidak.

Lidih hanya ranting-ranting kelapa yang lunglai. Apatah daya lunglai yang lemah. Tak mampu berbuat apa-apa. Jangankan untuk menghapus sampah di halaman untuk membetulkan dirinya saja tiadalah ia sanggup. Orang minang membaca akan hal ini. Seorang yang berdiri sendiri apalah yang mampu ia perbuat. Tapi kalau lidi yang kecil itu dikumpulkan satu-satu maka kumpulan itu menjadi sebuah ikatan yang kuat. Jangankan untuk menyapu sampah di halaman, untuk mengkilatkannya saja ia mampu.

Ikatan persaudaraan tadi menjadi sebuah ikatan yang kuat bak serumpun sarai. Tanaman yang dijadikan bumbu pemasak dan daunnya yang dijadikan tempat sangkar ayam yang betelur ini sangat unik. Sarai serumpun yang padu. Akarnya taut bertaut. Hingga kalau kita membongkar maka akan terbongkar ke seluruhnya. Untuk membongkarnya pun sungguh susah.

Kalaulah persaudaraan seperti ini, badai dari luar tiadalah mampu meluluhlantakan. Kalau seorang butuh bantuan maka bergotong royonglah mereka membuatnya. Sebagai contoh dasar yang masih dipertahakan sampai sekarang. Kalaulah orang akan membangun rumah, maka hal yang pertama kali diadakan adalah rapat bersama ninik mamak. Rapat yang dirundingkan orang-orang penting yang berhubungan dekat dengan keluarga. Rapat usai rumah siap di bangun. Hal yang kedua yang terjadi adalah, rumah dibangun atas dasar pondasi persaudaraan.

Hari pertama bertegak pondasi namanya, sekampung orang datang. Tujuannya hanyalah membantu pembuatan pondasi rumah. Mereka tak dibayar dengan uang atau penghormatan. Tapi kesadaran naluri persaudaraan orang minang mengantarkan kepada yang namanya ikatan batin sesama saudara. Tak peduli muda atau tua. Mereka semuanya seolah sepakat dengan suatu ketentuan yang menyenangkan.

salubang bak tabu

sakabek bak siriah

Terhimpun dalam suatu kesatuan dan keyakinan. Punyak pegangan yang sama. Satu lobang bak tebu, punya tumpuan yang hendak ditempati. Tidak ke mana pergi. Dalam satu lobang tentu terpancang dalam, terpacang kuat.

Satu ikat bak sirih. Sedang sirih oleh orang minang dijadikan pamanggi (mengundang orang banyak). Di mana sirih diletakkan dalam carano. Lengkap dengan sadah, gambinya. Ikatan satu ikat sirih ini ikatan dalam pergaulan senasib dan sepenanggungan. Memilikki rasa tanggungjawab sebagai seorang minang. Berdarah kepedulian yang menghujam dalam.

Satu ikat siri juga digunakan untuk mengikat tali pinangan. Orang yang akan menikah ia membawa seikat sirih kepada orang yang akan dipinang. Sedang pernikahan penyerahan anak kepada suaminya. Kelak yang akan menjadi pemimpin rumah tangganya. Ini bukan persoalan yang main-main. Ini juga bearti pengukuhan keturunan. Sirih menjadi lambang pelanjut generasi ke depan. Tidak boleh putus di tengah jalan. Kalaulah putus di tengah jalan alamat mencari kesusahan untuk diri sendiri.

sasakik sasanang

sahino samalu

Kembali kepada konsep persaudaraan diawal penulis sampaikan tadi. Ibarat satu tubuh sakit satu sakit yang lain, senang satu, senang yang lainnya. Koheren adat dan syarak sangat terlihat sekali dalam setiap ungkaian pitatah-patitih minang. Tidaklah akan senang orang minang melihat saudaranya menderita. Apalagi sampai tidak makan dan tidak minum. Bahkan semakin tidak senangnya melihat saudara yang kesusahan, mereka mau bersusah-susah. Kok ado samo-samo di makan, kok indak samo-samo manahan lapa, begitu benar komitmen yang dipegang. Semakin komitmennya dengan persaudaraan, kalaulah tidak ad kayu buat pemasak, jenjang dikeping. Sedang fungsi jenjang, tangga naik rumah. Tapi biarlah asal mereka sama-sama makan, mereka mau hidup bersusah-susah.

Begitu juga dengan rasa sahino samalu. Dahulu orang minang sangat dikenal konteks pergaulan yang erat dengan dengan budi, tingkahlaku, malu. Bagi muda-mudi mereka sangat malu kepada orang banyak kalau sempat mereka ditemukan berduan dengan pasangannya. Padahal itu mungkin hanya sekedar bicara biasa. Tapi saat itu juga muka mereka akan pucat. Serupa kehilangan muka. Tidak mampu ia bertemu dengan orang yang telah melihatnya. Bukan karena musuhan tapi karena bersalah dan malu.

Kalau ada orang yang melakukan perbuatan zina dalam kampung, maka orang itu di usir dari kampung. Dianggap ia tidak lagi orang yang bermamak. Maka terserah dia mau ke mana, asal ia jangan tinggal dalam kampung. Sedang Bagi mamak merah mukanya menahan malu, serasa hilang dirinya sebagai mamak. Dalam masyarakat ia serupa kehilangan fungsi. Ulah kemenakan ia yang telah menanggung nasib.

Untuk itu mengatasi semua itu, orang minang belajar ke surau. Di surau ia timba pengetahuan. Dengan itu ia berbekal hidup di kampung sendiri maupun di rantau orang. Orang minang juga tidak mau jadi kacang miang, ke mana hinggap orang dibuat gatal. Kalau ada orang yang seperti ini, biasanya ia akan tersisih sendiri. 

Namun saat ini kita serupa mengggit lidah. Sendi-sendi pergaulan ini terusik. Adat dan syarak mulai ditinggalkan. Sangat janggal rasanya, orang yang berbuat zina malah mendapat tempat. Kalau ia telah melakukan perbuatan haram itu maka ia buru-buru dinikahkan, seolah-olah kedua orangtua merestui, begitu juga dengan ninik mamak.

Pemuda yang mengatasnamakan orang minang, mereka tidak segan untuk berpelukan dengan yang bukan muhrimnya. Penulis siap lebaran kemarin pergi berjalan-jalan ke sebuah objek wisata di kabupaten solok. Sampai di objek wisata penulis bersama teman-teman berjalan sekeliling rerimbunan taman wisata. Ada pohon-pohon rindang yang letaknya agak sedikit tersembunyi. Sungguh miris kita melihatnya. Di bawah pohon-pohon itu muda-mudi berpeluk-pelukan. Layaknya suami istri. Sungguh ini gambaran adat dan syarak tinggal nama.

Setidaknya ini kembali menjadi guru besar bagi orang minang, bahwa tanda-tanda ini, tanda-tanda bencana dan tanda-tanda kehancuran. Jika budi sudah rusak maka negeri akan binasa. Tapi jika budi baik dan pergaulan kokoh makmur sentosa berada di tangan orang minang.***Padang, Lingkarputih, Oktober 2009

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.