Alizartanjung

Sastra Bahasa Hati

Kalau Tidak Ada Kayu, Jenjang Dibelah

Oleh Alizar Tanjung

kalau tidak ada kayu buat pemasak nasi biar jenjang naik rumah yang dibelah, asal kita sama makan, asal yang sedikit sama dirasai, yang banyak sama pula dibagi. Tidak masalah sesudahnya tidak ada yang dimakan asalkan tidak ada saudara atau tetangga yang dibiarkan kelaparan.

Berbicara tentang adat minangkabau sudah jelas kita tidak bisa dilepaskan dengan pitatah-patitih orang terdahulu. Sebab adat minangkabau adat orang yang berlembaga. Segala sesuatu ada aturannya, baik berkenaan dengan yang baik maupun berkenaan dengan yang buruk. Ke semua itu telah diatur oleh ninik mamak yang telah berunding di Rumah Gadang. Mereka selesaikan dengan olah pikir yang matang, berdasarkan dengan akal budi dan pengalaman hidup yang berbaringan dengan perkembangan zaman. Baca selebihnya »

19/12/2009 Ditulis oleh alizartanjung | Opini Sastra | | Belum Ada Tanggapan

Fakta Surau dalam Cerpen A.A. Navis “Robohnya Surau Kami”

Oleh Alizar Tanjung

Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam IAIN Imam Bonjol padang. Bergiat di FLP Sumbar

Berbicara tentang cerpenis dan penyair ranah minang ini, barangkali sudah tidak asing lagi bagi kita. Terutama dengan karyanya kumpulan cerpen, “Robohnya Surau kami” yang sangat fenomenal di tengah kehidupan negeri ini. Dan alhamdulillah kumpulan cerpen A.A. Navis mengalami penerbitan yang berulang. Kalau bagi saudara yang sempat pergi ke toko buku saya berikan sedikit gambaran. Buku itu bewarna putih muka belakang. Saat saudara baca tulisan “Robohnya Surau Kami”, maka tulisan itu sebenarnya agak bewarna kecoklatan. Kalau saudara membaca mulai dari cerpen pertama, maka yang saudara baca adalah cerpen, “ Robohnya Surau Kami”. Sedikit tambahan lagi buku itu tebalnya tidaklah sampai setebal lebar jempol tangan saudara. Demikian penulis menyampaikan kalau saudara berminat ingin menghayati dan mendalaminya. Baca selebihnya »

19/12/2009 Ditulis oleh alizartanjung | Opini Sastra | | Belum Ada Tanggapan

Di Kampusku Sastra Berembun Sejuk

Oleh Alizar Tanjung

Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam IAIN Imam Bonjol padang. Bergiat di FLP Sumbar

Jam 10:57:43 kemaren, bertepatan Tanggal 18 Februari 2009, hari yang mengembirakan bagiku. Sebuah pesan masuk ke dalam Hpku “Gmana, kampus IAIN Imam Bonjol mau m,berangkatkn n bisa hadir ke stain pwt? (Gimana, kampus IAIN Imam Bonjol bersedia memberangkatkan dan bisa hadir ke STAIN Purwokerto?” Sebelumnya aku memang mengirimkan sebuah cerpen untuk lomba cerpen tingkat nasional, yang diadakan oleh STAIN Purwokerto. Pengumuman lomba, saya peroleh dari media internet, karena sering browsing dengan internet. Cerpen lomba yang berjudul “Gadis Kecil di Perempatan Lampu Merah” itu saya kirimkan di akhir tahun 2008. Bagi pemenang serta yang masuk nominator akan diumumkan tanggal 14 Februari 2009.

Terus terang saya tak berfikiran dan lupa tentang kapan lomba diumumkan. Menurut saya, cerpen yang saya kirimkan tidak begitu bagus untuk masuk sebuah nominasi. Tapi Allah berkehendak lain, menghendakasi saya menduduki suatu tempat dalam kanca sastra. Saya terima pesan, setidaknya berbunyi, “Selamat Mas masuk nominator cerpen lomba nasional yang diadakan STAIN Purwokerto. Silahkan mengirimkan alamat Fax. Fakultas Mas.” Aku tidak dapat menyimpan kegembiraan/ Ingin kusembunyikan dari teman penulisku, Fernando, tapi tidak bisa. Dan yang lebih memberikan angin segar dengan dunia kesusatraan, ialah keberanian dan kesungguhan suatu kampus untuk melahirkan sastrawan-sastrawan melalui lomba kepenulisan fiksi. Baca selebihnya »

19/12/2009 Ditulis oleh alizartanjung | Opini Sastra | | Belum Ada Tanggapan

Dunia Kepenulisan itu Manis

Oleh

Alizar Tanjung (Ketua FLP IAIN IB Padang)

Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam IAIN Imam Bonjol padang. Bergiat di FLP Sumbar

Salam buat sobat semuanya yang senang membaca Fatih. Salam kenal juga buat kamu yang suka menulis. Salam kenal juga buat aku dan sobat. Ini kali pertama saya berhadapan dengan sobat dalam dunia kepenulisan di tabloid Fatih, tentunya di tabloid ini. Sebab kali ini saya menjadi wajah baru, setelah sekian lama sobat membaca Fatih ini. Sekarang sobat menemukan saya.

Dunia kepenulisan apakah dunia paling membosankan?

Apakah ini sebuah pertanyaan yang menguras otak? Sebenarnya tidak demikian. Dunia kepenulisan adalah dunia yang indah. Dengan menulis ada keunikan tersendiri. Ada dunia manis yang kita masuki dengan menulis, dunia itu terasa sangat nikmat. Semakin nikmatnya dunia menulis dalam waktu sendiripun tidak ada masalah. Asal ada buku dan pena yang mau menemani, kita bisa menulis. Dengan sunyi itu sendiri kita bisa menuliskan segala resah hati. Tanpa sadar kita sudah menikmati sunyi dengan menulis. Dalam waktu ramaipun bukan sebuah persoalan, asal ada buku tempat kita menorehkan tulisan. Waktu ramai itu sendiri adalah suatu ide untuk menuliskan. Tulis tentang keramaian itu sendiri.

Mengapa dunia menulis manis? Baca selebihnya »

19/12/2009 Ditulis oleh alizartanjung | Opini Sastra | | Belum Ada Tanggapan

Lalang

Cerpen Alizar Tanjung

danau kedinginan

Ada yang terbang, ada yang melayang, ada yang mesti dilihat dan terus melayang. Meski tidak pada waktu. Meski lagi tidak pada masa yang ini. Tapi semuanya tidak ada yang bisa untuk dilupakan. Dan kenangan hanyalah batas yang tidak akan sanggup menghapusnya. Atau sekerat potongan kenangan yang kembali setiap menjelang kepergian. Garis-garis indah yang yang jadi puzzle. Telah pula jadi garis-garis nganga yang ikut mengekor. Entah untuk kesedihan yang mana. Mungkin juga karena sedih yang pergi diam dan takkan pernah kembali.

Lalang melayang di tengah langit kering. Dan hanya hijau yang menjuntai di langit. Tentang begitu pula terasa jauh kabut. Tentang begitu pula renggang antara jarak batas dunia ini dan dunia sana. Di tengah kemelut dari dunia sana mungkin juga kan terbawa ke dunia ini. Dua potong dunia dua kerat luka yang terlonta. Sambil menyemburkan warna cahaya pada Lalang. Lalu tinggal goyang angin di atas langit. Mengeja warna yang sepotong atas Lalang kumpulan merah yang kau suguhkan dengan kertas, yang sepotong bawah, putih, yang entah kau beli pada lapau yang mana. Yang aku tahu mungkin pada lapau yang letaknya tentu saja di batas ujung jalan kampung. Tentang rumah yang bersedia menyediakan buluh. Ditarik mungkin sepanjang garis sungai yang melewati tebing di tepi ujung kampung. Dan kau yang meraut bilah bambu kau yang bersuara tentang dengung yang begitu panjang. Ini musim Lalang. Musim di langit kan lagi melayang. Entah unjuran tali yang keberapa terus saja di lomba tali yang panjang. Menjemput awan tentang begitu menari di kolong langit. Ini ruang ritme angin yang disulap Lalang pada jarak tertinggi. Baca selebihnya »

19/12/2009 Ditulis oleh alizartanjung | Sajak-sajak Alizar Tanjung | | Belum Ada Tanggapan

Kurungan

Cerpen Alizar Tanjung

kenangan kenanga

Aku katakan, lukisan adalah citraan manusia dari realita. Seperti lukisan yang terpajang di Taman Budaya padang ini. Sungguh menarikku. Dapat kulihat gambaran lingkaran kehidupan.

Sudah satu jam aku berdiri, tapi sungguh masih belum niat diriku untuk berpindah. Kupandang garis jejak yang semakin lama semakin menbentuk garis panjang. Di ujungnya entah anak manusia yang mana. Tiba-tiba diriku sudah berdiri di padang pasir. Ada yang menarikku.

Seseorang berlari. Entah siapa dan terus berlari. Semakin lama ia berlari semakin menjadi titik. Terus menjadi titik. Tak lagi terlihat. Tapi seseorang yang berlari, ia tinggal jejak. Jejak yang arahnya maju ke tempat aku berdiri.

Berdiri di padang gersang yang tak aku tahu apa namanya. Padang gersang entah pada pasir yang apa. Ada yang aneh. Kanapa jejak ini membelakangi depan. Bukan dari tadi ia berlari dari titik ini berlari yang maju. Maka sungguh bukan ini yang harusnya terjadi. Baca selebihnya »

19/12/2009 Ditulis oleh alizartanjung | Cerpen Alizar Tanjung | | Belum Ada Tanggapan

Kejadian-kejadian Puisi

Cerpen Alizar Tanjung

Bulan di tengah bintang sedang tersenyum

menunggu kepastian atas sebuah nasib

Kemarin kukatakan ke ibu. Aku ke kota. Katanya kota indah. Aku katakan aku berangkat selama seminggu. Selama seminggu aku kan berkeliling. Maka aku ucapkan ke ibu, “Aku kan bawa sebuah buku. Kan kutulis puisi. Puisi yang paling cantik atau puisi yang paling muram. Jelasnya sejak aku tinggalkan rumah kampung deretan bukit dan tebing Karang Sadah ini, maka kumulai menulis puisi.”

Ibu berikan aku adegan cium di kening. “Semoga puisimu puisi yang selalu terseret ke dalam arus zaman, tapi kau di dalamnya tidak terseret.”

Punya seorang ibu yang penyair, cukup melahirkan juga kata-kata romatis.

“Nah, dari jenjang ini sebelum kau membawa langkahmu menuju rumah-rumah kota maka ibu yang akan berpuisi. Tapi puisi ibu bukan untuk kau catat. Puisi ibu tuk kau rapal dalam ingatan yang dalam. Ibarat kata kau yang melihat langit. Kau lihat selalu hijaunya. Walau malam kau lihat cerahnya.” Baca selebihnya »

19/12/2009 Ditulis oleh alizartanjung | Cerpen Alizar Tanjung | | Belum Ada Tanggapan

Kota-kota Masa lalu

Cerpen Alizar Tanjung

prahara

Kita sedang membaca. Kita memang sedang membaca tanda-tanda yang muncul setiap yang pergi. Timbul dan tenggelam. Kita berteka-teki. Kita memang sedang berteka-teki tentang apa saja. Tentang lupa atau tentang kota yang dilupakan di masa lalu dan sekarang. Barangkali kita kembali untuk mereka-reka pada daerah mana. Mungkin saja pada daerah yang kita injak saat ini. Itu mungkin. Mungkin saja itu hanya penghangat cerita setiap saat kita duduk di kedai kopi. Secangkir yang pekat dengan segudang cerita yang berkoar. Serambi atap rumbiah serambi atap yang kita gunakan untuk pengganti atap ilalang. Baca selebihnya »

19/12/2009 Ditulis oleh alizartanjung | Cerpen Alizar Tanjung | | Belum Ada Tanggapan

Hujan Langit Sumatera

Cerpen Alizar Tanjung

Hujan menuruni langit sumatera belumlah henti. Dan kau masih terdiam. Sekali kau pandang tembus kaca mobil. Hanya dereretan lampu basah, beberapa tubuh yang kuyut. Jauh terpancang baliho-baliho pongah sepanjang badan jalan. Lampu-lampu temaram yang membelah badan jalan. Sungguh ini untuk yang pertama kali kita kembali ke kota Solok ini.

“Mestinya kita tidak kembali lagi ke kota ini,” katamu.

“Kita hanya kembali untuk sementara waktu, Dik,” ucapku.

“Aku sungguh tak ingin seperti ini. Aku ingin kita di Lampung sana saja,” ucapmu. Bibirmu yang bergemetar merah itu tidak lagi seperti asalnya. Kini kau yang memagut dingin. Dan hujan bunyi lain yang berdentang di atap. Baca selebihnya »

19/12/2009 Ditulis oleh alizartanjung | Cerpen Alizar Tanjung | | Belum Ada Tanggapan

Capung Kuning si Capung Kuning

Cerpen Alizar Tanjung

anak di tepi malang

Pagi-pagi Tasya sudah pergi ke gurun. Di bawah panas matahari ia ingin melihat capung yang berlari-lari di angin. Pasti indah sepagi yang cerah capung sudah mengelindap dan terbang diam-diam. Tasya ingin lihat capung itu beramai-ramai terbang, capung yang ketika terbangnya serupa warna emas, warna itu mengkilat dan berkerdap-kerdip disapu cahaya.

Capung hanya banyak pada daerah gurun. Tentunya kini gurun yang banyak ditumbuhi rumput sarut, rumput yang menjuntai-juntai dengan jenggotnya. Tak kalah indahnya ketika angin menghembusnya, berayun dengan ayu ke sana-sini. Saat itu pula capung-capung semakin ramai serupa pesawat yang menari-nari, maksudnya helikopter. Seperti helipkoter yang pernah mengeliling gunung Talang, helilopkter itu bermain helat-helatan. Putar sini lalu menghilang kemudian muncul lagi. Dahulu tiga helikopter bermain-main sepanjang keliling rimbun gunung Talang. Saat itu tasya takut, tapi ketakutan kembali lenyap. Ibu katakan, “Tasya, itu namanya helikopter pak tentara udara.” Pak tentara udara, kata hati tasya. Baca selebihnya »

19/12/2009 Ditulis oleh alizartanjung | Cerpen Alizar Tanjung | | Belum Ada Tanggapan