Sajak-sajak Alizar Tanjung

Sisa-sisa Senja

1_100_2615_26

sudah cukup luas

kuaruungi lautan, memetik samudera,

memilih pulau di antara pulau,

singgah dan berlalu. asin laut begitu pula

dalam basah dan kering bersatu dalam

lidahku. rasa tak pernha menipu.

alam telah terlebih dahulu bersyair

di dermaga keberangkantan, di tunggul

ikab nesi

tapi halaman begitu kosong.

aku lupa telah membawa

pena tak berdawat. ujungnya tumpul

dalam helaian. aku sudah hampir tutup halaman terakhir.

di sini hanya ada goresan batu yang karang, warna

arang tungku perapian.

kini dermaga

cahaya bewarna merah saga. senja yang mulai menggulung

benag hitam. burungburung meninggalkan jejak

di abu kapal. Jiwa bersiazan masa lalu. Di jendela

pujangga tinggal melepas gagang. dan di halaman,

yang terbaca suara-suara kosong. Jejak, beku. Gerak mengaji

angka kematian.

di pintu aku berjalan bungkuk

menuju kamar tidur.

di waktu ini aku ingin kembali

membaca laut, pulau, samudera

sampai tidurku

Padang,13 Mei 2009

Sajak-sajak Alizar Tanjung

Oresan Nama

1_100_2567_126

:Kartini

aku ukir namamu dengan sebilah oresan batu

yang kuambil di sungai dalam di dasar lembah,

betapa aku menangis mengingatkan jemariku. jangan terlalu

keras oresannya; nama, tanggal dan bulan, tahun,

sejumlah huruf dan nominal angka.

aku ukir namamu

begitu dalam aku merajuk gerak yang lamban.

tentang kau aku sungguh merindu; tidur yang lelap,

indang lagu si buyung ibu, petikan puisi anak doa,

atau suapan nasi di bibirmu yang cerah.

aku ukir namamu.

aku tancap di sebidang tanah,

tentang anak perempuanmu yang banyak,

bukan dari rahimmu.

aku ingin ia mendengar oresan tanganku;

aku lelaki, lelaki yang menulis batu.

aku lelaki, lelaki yang membenihkan doa,

yang suatu saat kuharap ia juga membenihkan doa.

Aku ukir namamu

Membiarkan pelayat tetap membacanya.

Padang, 2009

Sajak-sajak Alizar Tanjung

Batu Surau Tua di Tengah Kota

1_100_2650_61

apa yang kau sebut dengan kebenaran di atas batu,

dan dimana sajadah yang kau maksud? di sini interior

modern dari tali kecapi, lagu anak hujan

mengupatngupat rembang.

batu ini tergaris bekas sujud, membekas, membekam dalam.

jejak-jejak cinta terukir, juga telaga airmata

yang jadi kolam ikanikan. Setiap malaikat memancingnya

dengan memasukkan tangan tengadah.

pertanyaan apa lagi yang mau kau lontarkan. Kujawab dengan

lisan penyair, yang selalu merenangkan airmata

agar kolamkolam itu tetap berair tumpah.

bukankah awan malam bewarna hitam, batu ini

juga batu bewarna hitam, dan tali kecapi setiap putus

bisa di ganti?

surban putih pada jemari malaikat,

tentunya kemilau cahaya melantun doa,

kemana ia melayang, ia melayang bunyi ayat

setiap gelap jadilah terang. dalam gelap

membentang halaman diisi zikir yang tertumpuk

dalam pengaduan panjang.

dan air wuduk itu meretas kisah hati sejoli,

jatuh dan mengalir keurat batu. Dan bengkak kaki itu,

bengkak rindu yang menumpuk gejolak semakin dalam.

Jangan tanyakan kapan. Aku kan jawab

ketika setiap tanah ini tanah Tuhan, dalam diri.

Padang, 2009

Sajak-sajak Alizar Tanjung

Sayap Subuh

i1_100_2565_124

di sini, negeriku, Indonesiaku.

Sisa subuh pagi ini masih tertinggal di daun jendela surau

saat bilal selesai berkumandang falah. Ia bersalat dengan

imam dan makmum dari dirinya. Telah pula tertinggal bunyi

ayat setiap kali membuka halaman.

kemana kah orangorang? orangorang ke dalam sumur

tak berdasar dari tanah liat, digali pada suatu rembang

saat bersalat ke dalam magrib terlintas tanpa terngiang.

teringat keinginan menangkap anak-anak ikan, dalam lubuk

air di waduk ujian.

Dihalaman menyapu jejak angin yang membeku, terbuat

hujan gerimis malam tadi. Sehelai daun masih berdiri kukuh.

Jejak yang jadi patung sedikit gerak pintu pagar, gerak

yang masih tergagu menyapa arah angin.

ii

di filipina surau ialah setiap lembaran bumi

dari tanah, batu kali, hutan tegak beneri. Sesekali anak tani

menyediakan bajunya dalam bentangan rumput perdu,

bersalat panjang mendengar rindu tuhan. Sambil menyalangkan

telinga selongsong peluru yang bisa datang kapan saja.

iii

imam terdiam kaku, mengingat jejak rambutnya tertinggal

dalam warna kabut. Dan ia terus berlalu menutup pintu sambil

berkumandang tentang cara hidup dan tentang cara merindu mati.

Mungkin seperti menisankan negeri ini.

Igasar, 2009

Sajak-sajak Alizar Tanjung

Subuh

1_100_2692_174

Surau bertanya kepada subuh

“menurutmu berapa orang salat

dan berapa saf penuh.”

“menurutku jalan lengang

hari masih kelam.”

“menurutmu mungkin dua orang

ustad surau. satu bilal satu imam.”

“menurutku satu bilal dan makmum,

satu imam.”

“menurutku ribuan malaikat menangis

tersedu, triliunan partikel sujud, ribuan dedaunan

tersungkur.”

“menurutku dua orang manusia, ribuan makhluk”

Malaikat di langit berbintang menyambut pembicaraan alam

“aku, kau surau, kau subuh bersujud

bersujud sehabis fajar”

“kemana manusia”

“manusia dalam basyar dalam tubuh kasar.

Manusia dalam perang menang dan tiba di nan kalah.”

Padang, 2009

Sajak-sajak Alizar Tanjung

Sajadah Salat

1_100_2659_70

Aku tak berani berkata, ayah

tentang sajadah dekat pintu. Kenapa

bukan di lemari. aku tanyakan ibu,

ibu masih membaca ayat al Qur’an

beliau menangis dan sujud

di bumi minang si malalak telah runtuh

dan malaikat memilih ruh,

di tanggul seorang bayi mati menangis.

malaikat tersedu mencabut ruhnya.

di tanah, air jadi anyir.

tangis jadi badai di dada.

sedih jadi luka menganga

di ranah minang

tanah ulayat bersimbah darah.

kemaren juga mamak bocor

disambet kemenakan, kepalanya.

ibu berhenti mengaji di bilik kamar

biarkan ia di sana nak

di luar sana sajadah sudah bosan

dalam lemari.

dan di sini sajadah telah pula menangis

Tuhan juga bersedih hati memperingatkan kita nak

Padang, 2009

Sajak-sajak Alizar Tanjung

Membaca Diri

1_100_2687_169
geser sedikit arah jarimu ke surat 32
aku si buta, kau mata anginku
aku kan mebaca ayat 15 dengan ujung jemariku

sesungguhnya orang-orang yang beiman
dengan aya-ayat kami, adalah orang-orang
yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat kami
mereka menyungkur sujud. dab bertasbih serta memuji
tuhannya, sedang mereka tidak menyombangkan diri.
dan aku pinta kepadamu
agar penerang yang di atas meja
kau dekatkan ke mataku
agar ia jadi cahaya dan aku menangkap warna
merah di kelopak mataku

sedikit lagi permintaanku
sebuah sajadah dari batu
dan dilapisi tanah hitam
agar aku bisa mengingat-ngingat
kakekku adam,
kek aku anak cucumu, dan kau tak pernah tahu
sudah. sudah.
aku ingin sendirian, dia telah datang
tinggalkan aku aku ingin menujunya.

trimakasih
Padang, 2009

Poster-Poster Wajah Partai

Oleh

Alizar Tanjung

picture11

dengan rasa rindu kukenang pemilihan umum setengah

abad yang lewat
dengan rasa kangen pemilihan umum pertama itu

kucatat
peristiwa itu berlangsung tepatnya di tahun lima

puluh lima
ketika itu sebagai bangsa kita baru sepuluh tahun

merdeka

itulah pemilihan umum yang paling indah dalam
sejarah bangsa
pemilihan umum pertama, yang sangat bersih dalam
sejarah kita

……………

(Taufiq Ismail)

Baca entri selengkapnya »

Ukhwah Islam Darah Kita

Oleh Alizar Tanjung

Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam IAIN Imam Bonjol padang. Bergiat di FLP Sumbar

“Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara” (Al-Hujurat: 10).

Hiduplah bagai kekuatan sapulidi! Satu lidi memang tidak akan membawa manfaat yang bearti, namun sebab sebuah kesatuan, sapulidi yang dihimpun dalam sebuah wadah satu ikatan, bagai power pusat tenaga. Dengan seikat sapulidi batu-batu kerikil dapat disingkirkan dari halaman rumah dengan efisien, bahkan bersih dari daun-daun mati, serta plastik yang menjadi pusat penyakit dan virus-virus ganas.

Inilah yang harus dimilikki umat muslim saat ini. Bisa jadi orang beranggapan selogan sapulidi tak terlalu bearti, kalau ini hanya sebuah kiasan. Tapi lihatlah filosofinya yang mendalam. Dalam konsep Islam, persaudaraan adalah ibarat sapulidi. Satu sama lain saling memberikan kekuatan lahir dan batin. Saat batin teraniaya yang lahir ikut merasakan, saat lahir teraniaya yang batin ikut menanggung kegelisahan. Baca entri selengkapnya »

Sarung

Oleh

Alizar Tanjung

gambar puisi jun 2009

Semasa kecil, semasa aku masih berlari-lari menuju surau. Bapak-bapak rajin duduk di lapau. Memesan setengah kopi pahit. Menuang batu domino sambil menceritakan segala yang bisa membuat hati riang. Tentang kejadian di ladang; tentang kentang yang daunnya layu, tentang bawang yang tak menjadi, tentang lobak yang harganya murah. Juga tentang adat orang di kampung; Orang yang berelatnya mambantai kambiang, orang yang berelatnya memakai pakaian ameh, orang yang  berelatnya langsung batagak gala. Satu hal yang tak tinggal oleh bapak-bapak, kemanapun beliau berpergian tak lupa membawa sehelai kain sarung. Kadang sengaja dilipat halus lalu diselempangkan menjuntai leher, serupa buya. Tak jarang pula dibelitkan ke pinggang kalau ada acara baralek atau manjanang. Pada kesempatan lain, dijadikan halas kepala dari beban yang ditopang kepala sehabis pulang dari ladang. Baca entri selengkapnya »

« Entri lama